Semai Kelenturan – Perkuat Keteguhan: Merawat Ruang Diskusi Musikologi dari Seminar Ngelmu Pring

Penulis: Rindu Sangmesih Wijayanti 

Dalam perkembangan ekosistem musik yang semakin masif, hadirnya ruang diskusi mengingatkan kita akan keberagaman pilihan dan langkah-langkah nyata untuk menjaganya. Diskusi semacam ini telah banyak berkembang dalam ruang-ruang kolektif dan informal — menjadikannya sebagai satu tempat pertukaran ide yang menyenangkan. Tentu saja ruang diskusi semacam ini juga harus dijalankan di bawah atap institusi formal musik— tak terkecuali di balik dinding bangunan kampus. Sebagai sebuah ruang akademik, pertukaran gagasan ihwal fenomena musik harus terus dinyalakan supaya ilmu pengetahuan yang dipelajari juga semakin relevan. 

ISI Yogyakarta sebagai induk utama dari semua program studi, termasuk Program Studi Musik, seharusnya menjadi muara pertemuan antara pemikir dan praktisi demi mencapai relevansi ilmu pengetahuan. Sayangnya, beberapa tahun belakangan giat diskusi semacam ini sering absen dari program kerja himpunan mahasiswa entah karena disebabkan apa. Akan tetapi, pantikan itu lambat laun akhirnya muncul dalam rapat-rapat program kerja seperti yang telah terjadi beberapa waktu yang lalu.

Jumat 7 November 2025 lalu, aula Gedung Kuliah Umum Fakultas Seni Pertunjukan (GKU FSP) ISI Yogyakarta menjadi saksi bisu digelarnya sebuah seminar bertajuk “Ngelmu Pring: Lentur di Tengah Teguh – Menjaga Akar Tradisi Musik di Era Modern”. Acara ini diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Musik. Seminar ini mengajak Paksi Raras Alit, seorang penulis dan pegiat seni, sebagai narasumbernya. Paksi Raras Alit adalah seorang seniman yang sebelumnya menempuh pendidikan tinggi di Jurusan Sastra Jawa kemudian banyak hadir di panggung-panggung pementasan dengan membawa kebudayaan tradisi yang dikemasnya dalam rupa era modern. Saya berkesempatan menghadiri seminar yang dibawakan dengan santai namun tetap ‘ndaging’ ini, berikut catatan saya.

Muhammad Dika Aldhiansyah menyampaikan sambutan (sumber: HMJ Musik)

Seminar dibuka oleh Ketua HMJ Musik, Muhammad Dika Aldhiansyah. Dalam sambutannya, ia menyemai harapan agar kegiatan ini mampu hadir sebagai ruang bagi mahasiswa musik untuk memahami akar budaya dalam perkembangan musik di Indonesia. Harapan yang sama juga disampaikan oleh Ketua Prodi Musik Kustap, S.Sn., M.Sn., yang dalam sambutannya menegaskan bahwa Prodi Musik memiliki akar keilmuan musikologi, sehingga penting untuk memaknai kajian musik melalui konteks sosial budaya. Melalui sambutannya juga, beliau menyampaikan mengenai postmodernisme, yang kemudian menjadi pemantik awal penyampaian materi oleh Paksi Raras Alit. 

Bapak Kustap, S.Sn., M.Sn. menyampaikan sambutannya (sumber: HMJ Musik)

“Apa arti postmodern?” pertanyaan pembuka dari Paksi Raras Alit bagi peserta seminar siang itu. “Bagi saya postmodernisme adalah ketika kita mulai memikirkan kembali hal-hal yang mulai ditinggalkan dalam konteks budaya,” kurang lebih begitu pemantik yang diberikan.

Materi siang itu berakar pada satu dasar konsep bernama ‘Hibriditas Seni’. Predikat seniman menjadi salah satu pembahasan awal dalam rangkaian materi dilema seni. Predikat seniman menjadi hal yang banyak diidamkan akan tetapi kembali lagi pada pertanyaan, “Kalau memilih jadi seniman mau makan apa?” dilema tersebut berujung pada diskusi seputar Hibriditas Seni—sebuah upaya menjawab persoalan pelik yang sejak dulu hingga kini dialami mahasiswa kampus seni. 

Paksi Raras Alit memberikan beberapa gambaran mengenai konsep Hibriditas Seni, di awal ia menampilkan gambar Candi Prambanan—produk dari percampuran kebudayaan India dan Jawa. Kemudian dari contoh musik, ia menampilkan foto Manthous, musisi kondang campursari. Ia menceritakan bahwa pada masanya Manthous pernah dikritik habis-habisan karena musiknya dianggap menyalahi pakem kesenian karawitan. Hal ini juga selaras dengan kesenian yang telah dijalankan oleh Paksi Raras Aliti melalui Paksi Band, sebuah format orkes keroncong yang dikemas dengan lebih modern. Melalui kegiatan-kegiatan keseniannya begitu terlihat bagaimana ia merupakan seorang seniman yang begitu antusias memproklamirkan kesenian tradisional yang dikemas dalam konteks era modern. Hal tersebut diupayakan untuk menjaga kesenian tradisi dapat relevan sesuai dengan kehidupan sosial masa kini yang sudah penuh dengan globalisasi.

Berawal dari pemikiran tersebut tak lupa Paksi Raras Alit memaparkan satu hal yang menjadi tajuk seminar kala itu yakni “Ngelmu Pring”. Sebuah falsafah Jawa yang mengacu pada filosofi tumbuhan bambu yang tetap berdiri teguh di berbagai kondisi. Sama seperti pesan yang ingin disampaikan melalui seminar ini yakni mendorong teman-teman mahasiswa untuk lentur berkarya di tengah arus global yang kian deras namun tanpa meninggalkan akar tradisinya. Sang pembicara memberikan salah satu contoh mengenai pagelaran wayang yang teknik mendalang tentunya berubah setelah hadirnya microphone yang memampukan suara dalang dapat terdengar keras tanpa perlu bekerja ekstra seperti sebelum adanya microphone.  

Pemikiran-pemikiran yang dikemukakan Paksi Raras Alit menghantarkan peserta berbondong-bondong memberikan pertanyaan pada sesi tanya jawab. Banyak ide dan gagasan juga yang dituangkan oleh para peserta dalam menanggapi presentasi yang telah diberikan oleh Paksi Raras Alit. Mulai dari pertanyaan mengenai pakem dalam kebudayaan tradisional, akulturasi dan hibriditas, serta cara untuk menghindari perasaan inferior terhadap budaya sendiri. Paksi Raras Alit merupakan seorang seniman yang gemar bereksperimen dengan kesenian tradis. Kendati begitu baginya menjadi konservatif dalam hal kesenian tradisional juga kadangkala diperlukan untuk tetap menjaga nilainya. Ada juga diskusi tentang upaya mengikis perasaan inferior pada kebudayaan milik sendiri. Peserta seminar didominasi oleh mahasiswa musik sehingga dari sesi tanya jawab ini terasa begitu menyegarkan karena saya dapat mendengarkan banyak pandangan yang berakar pada keilmuan musikologi yang didapat teman-teman dari ruang diskusi di kelas.

Paksi Raras Alit sebagai pembicara seminar (sumber: HMJ musik)

Meskipun musik yang dipelajari di Prodi Musik lebih mengacu pada kaidah musik Barat, namun pembicaraan akademik mengenai musik di Indonesia tidak akan luput dari kebudayaan lokal beserta kondisi sosialnya. Sebagai satu program studi yang secara mendalam mengkaji mengenai fenomena musik, saya rasa seminar ini merupakan tindakan bijak untuk menumbuhkan budaya berpikir kritis bagi mahasiswa, termasuk saya. Salah satu tantangan terbesar yang saya rasakan sebagai mahasiswa prodi musik adalah kurangnya pembelajaran di ruang kelas yang menumbuhkan sensivitas terhadap isu. Padahal peka terhadap isu merupakan akar yang seharusnya dimiliki mahasiswa prodi musik yang landasannya dibangun di atas bidang musikologi. Ketika sensivitas terhadap isu lemah, tentu itu hal darurat bagi calon pemikir musik yang harus segera dihidupkan kembali. 

Sayangnya, dari sekian banyak mahasiswa prodi musik tidak banyak yang hadir. Terlihat dari banyaknya kursi yang kosong di aula GKU FSP siang itu. Sepertinya kebutuhan akan forum diskusi seperti ini masih sulit mendapat tempat di hati teman-teman mahasiswa prodi musik. 

Meski begitu, tetap angkat topi untuk teman-teman HMJ Musik yang telah menghidupkan kembali ruang diskusi di luar kelas. Sebuah langkah nyata untuk mendorong teman-teman mahasiswa dapat lentur terhadap zaman ketika berkarya. Kiranya ruang-ruang serupa bisa lebih banyak hadir dan menumbuhkan pemikir-pemikir baru dalam belantika musik Indonesia. 

Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: HMJ Musik FSP ISI Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *