Penulis: Vinda Angguna Alya Hawa Cinta
Sore yang teduh menyelimuti Gedung Rektorat Lama Kampus ISI Yogyakarta. Ruang kelas bertanda 2.1 menjelma wahana apresiasi, mengumpulkan gitaris muda yang kala itu segera resmi menjadi bagian dari keluarga Gitar Ekstra Mahasiswa (GEMA).
Gitar Ekstra Mahasiswa adalah sebuah wadah berkumpul dalam bentuk Kelompok Kreativitas Mahasiswa (KKM) yang berdiri di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Jurusan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta. Disemai pada 21 Maret 2002 oleh sekelompok mahasiswa gitar klasik kala itu. Para perintisnya antara lain adalah Siwa, Jecko, Fido, Frans, Putu, Chandris, Rangga, hingga Pak Kustap, yang bersama-sama menyalakan api pertama perjalanan komunitas ini. Sejak didirikan, GEMA menjadi pelataran bagi para pecinta gitar klasik untuk bertumbuh dan berbagi.
Tanggal 26 September 2025 dipilih sebagai momentum mini konser perdana yang digelar dalam rangka penerimaan anggota baru angkatan 2024. Mini konser digelar dengan tajuk “Introduction: La Guitarra Clásica” yang berarti sebuah “Pengenalan: Gitar Klasik”. Judul yang memadukan Bahasa Inggris dan Spanyol ini menegaskan dua hal; sifatnya sebagai pembuka sekaligus penghormatan pada akar sejarah gitar klasik di tanah Spanyol. Melalui pertunjukan karya-karya pilihan, mini konser ini mengajak penonton memahami karakter, jiwa, serta nilai estetika gitar klasik.

Audiens mini konser( dok. KKM GEMA)
Bukan di panggung megah atau auditorium luas, melainkan di sebuah ruang kelas sederhana. Kursi yang terbatas justru menyalakan suasana hangat, menghadirkan kesan intim serta kekeluargaan antara penampil dan penonton. Acara dibuka oleh Ikrom, anggota KKM GEMA yang bertugas sebagai pembawa acara. Dalam moderasinya, ia memaparkan profil GEMA serta konsep mini konser. Setelah itu, Herjuno selaku ketua KKM GEMA di periode ini turut menyampaikan rasa terima kasih yang tulus atas apresiasi yang telah mengalir untuk perhelatan sore itu.
Pertunjukan ini berpersonilkan sebelas orang yaitu, Niko, Yohanes, Benita, Renvoi, Valen, Satura, Akbar, Satria, Gamal, Yoshua, dan Gusti. Mereka berasal dari tiga serikat musik, yaitu Seni Musik, Pendidikan Musik, dan Penciptaan Musik. Sebanyak enam repertoar mereka bawakan. Masing-masing berjudul “L’Ultimo Caffe Insieme”, karya Simone Iannarelli’s “Fantasie Dramatique”, karya Napoleon Coste, “Sons de carilhoes” karya João Pernambuco,“Melodioso” karya Valses Poeticos, “Batur” karya Dwi Hansen, dan “Lampah” karya Gita Puspita Asri, yang disajikan dalam beragam format, mulai dari solo, duo, hingga ansambel.

Ansambel Gitar Ekstra Mahasiswa (dok. KKM GEMA)
Salah satu repertoar yang dibawakan dalam format ansambel adalah “Batur” karya Dwi Hansen, seorang alumni ISI Yogyakarta sekaligus anggota GEMA. Karya ini menampilkan suasana tenang dan reflektif. Setiap gitar saling mengisi, salah satu menghadirkan melodi utama, yang lain menimpali dengan harmoni dan lapisan bunyi. Bersahut-sahutan, mereka membentuk anyaman suara yang kaya, menciptakan atmosfer kontemplatif yang sederhana namun menyentuh. Judul “Batur” sendiri terbuka pada banyak makna, dari lanskap alam di Bali hingga sebutan akrab bagi seorang sahabat dalam bahasa Jawa. Momen pertunjukan menjadi semakin istimewa karena Dwi Hansen turut hadir langsung menyaksikannya. Ia memberikan apresiasi positif dan bahkan membagikan cuplikan penampilan ini melalui akun media sosialnya.
Rangkaian repertoar lainnya memberi warna yang beragam, ada yang tenang dalam permainan solo, percakapan hangat lewat duo, hingga jalinan suara ansambel yang lebih megah. Ada pula karya dengan teknik bermain gitar yang cukup menantang. Perbedaan karakter itu justru menyusun satu perjalanan musik yang utuh.
Di penampilan terakhir, atmosfer ruangan berganti. Dari yang semula hanya sebelas gitaris dalam berbagai format, kini seluruh depan pentas dipenuhi penampil. Para pendahulu GEMA yang selama ini membimbing turut maju, berdiri sejajar dengan para anggota baru. Setiap petikan bersambung tanpa jarak, menyatu dalam alur yang sama, menutup konser dengan kebersamaan yang terasa utuh. “Lampah” karya Gita Puspita Asri menghadirkan sebuah perjalanan musikal yang merefleksikan langkah batin manusia melewati kehidupan. Dengan mengolah tangga nada pelog dan slendro yang berpadu dengan pendekatan komposisi modern. Nuansa awal yang lirih seperti kelahiran, menuju gelombang pencarian jati diri, hingga akhirnya tiba pada titik terang yang menyerupai pencerahan.
Acara benar-benar ditutup oleh tepukan tangan yang tiada usai, menandakan apresiasi tulus yang tak lagi terbendung oleh ruang kelas sederhana. Banyak yang rela berdiri demi menyaksikan hingga akhir, namun ada rasa sayang yang tak bisa disembunyikan. Beberapa dosen gitar tidak hadir, bahkan ada yang meninggalkan ruang sebelum acara berakhir. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan dukungan akademis yang memberi makna lebih bagi perjalanan seni dan perjuangan para musisi muda.
Di tengah suasana sederhana nan kekeluargaan, apresiasi yang tercipta jauh melampaui ekspektasi. Pembawa acara menghadirkan keakraban lewat interaksi hangat bersama penonton. Personil aktif GEMA memberi pesan untuk terus berlatih dengan penuh tekad, terus membuka ruang bagi teman-teman lain untuk bergabung, dan menjaga semangat kebersamaan.

Potret solidaritas para gitaris (dok. KKM GEMA)
Kendati malam itu adalah penampilan perdana mereka, generasi baru menunjukkan tekad dan potensi yang menjanjikan. Mereka berupaya keras membawakan repertoar yang menantang dengan penuh penghayatan. Mini Konser “Introduction: La Guitarra Clásica” menjadi sebuah perkenalan serta pengantar bukan hanya untuk sore itu, tetapi juga untuk perjalanan GEMA selanjutnya, memetik nada demi nada yang tak akan berhenti bergema menyambut tunas baru Gitar Ekstra Mahasiswa.
Editor: Lintang Pramudia Swara
Foto Sampul: Gitar Ekstra Mahasiswa
